Blogger news

16 Jun 2014


Bulan Mei segera usai, berganti bulan Juni. Orang tua yang memiliki anak yang ingin melanjutkan sekolah ke sekolah baru mulai sibuk mencari-cari sekolah yang terbaik untuk anak-anaknya. Pihak sekolah pun gencar menjaring siswa untuk mendaftarkan ke sekolah mereka. Maka tak heran bila banyak sekolah-sekolah swasta sudah mulai menerima pendaftaran siswa baru mulai dari bulan November atau Desember. Padahal ajaran baru akan dimulai bulan Juli.



Umumnya, masuk ke sekolah swasta terbilang cukup mudah. Asalkan mampu membayar uang pangkal dan uang rutin bulanan, si anak bisa masuk ke sekolah swasta, (tapi banyak juga sekolah swasta melakukan penyaringan calon siswa dengan melakukan tes, misalnya tes membaca atau menulis ). Yang menarik perhatian saya adalah jika anak ingin didaftarkan ke sekolah negeri (masuk SD negeri), maka salah satu persyaratannya adalah si anak berumur minimal 6,5 tahun saat ajaran baru dimulai. Bahkan ada juga yang mewajibkan anak berumur 7 tahun. Walaupun secara akademis si anak sudah mampu ( bisa membaca dan menulis ), maka bila umurnya kurang dari 6,5 tahun, si anak akan tetap menjadi cadangan.

Mengapa sekarang baru diberlakukan persyaratan umur 7 tahun baru boleh masuk Sekolah Dasar (SD). Alasannya adalah supaya si anak siap belajar secara mental dan psikis. Mungkin karena di SD mulai benar-benar fokus belajar (kalau di TK bermain dan belajar).

Masuk SD dituntut harus bisa membaca dan menulis karena buku pelajaran kelas 1 SD hanya sedikit sekali berisi cara membaca dan menulis selebihnya membahas hal yang lain seperti pengetahuan umum. Bagaimana jika anak masuk SD tanpa masuk TK terlebih dahulu? Anak yang belum bisa membaca dan menulis? Lagipula ada wacana bahwa anaknTK tidak diwajibkan bisa membaca dan menulis. Jadi ketika masih TK belum bisa membaca dan menulis, ketika masuk kelas 1SD harus cepat bisa membaca dan menulis supaya dapat mengikuti pelajaran.

Bulan lalu saya bertemu dengan salah seorang teman lama. Dia memiliki anak seusia Abigail. Saat itu saya bertanya apakah anaknya sudah sekolah (masuk TK)?

Dia jawab belum karena masuk SD sekarang umurnya 7 tahun. Kalau dimasukin TK sekarang takutnya bosen sekolah, kelamaan di TK.

Saya pikir hal itu wajar. Lalu saya bertanya lagi, sekarang mana anaknya?

Lagi les, les baca tulis supaya gak kaget saat nanti masuk sekolah.

Saya hanya bisa menjawab, oooo.


Kejadian di atas saya sempat berpikir. Mengapa tidak sekalian saja memasukkan anaknya ke TK? Bukannya TK mengajarkan konsep belajar sambil bermain? Sedangkan les hanya fokus belajar dan belajar? Akan membuat anak jadi bosen?
Saat ini banyak ibu yang "mencuri start", mendaftarkan anaknya les baca tulis padahal umur si anak baru 3-5 tahun.

Dulu pernah saya mengajarkan baca satu suku kata ba-bi-bu-be-bo dan sebagainya ke Abigail. Saat diajarkan, Abigail sempat frustasi, menangis karena susah. Saat itu saya tersadar, kenapa saya memaksa harus bisa baca seusia itu, kalau tidak salah saat itu baru berumur 3-3,5 tahun. Sejak saat itu saya tidak lagi memaksa harus bisa, saya hanya mengarahkan jika Abigail ingin belajar. Hanya jika Abigail ingin belajar. Dan ternyata lebih cepat diterima Abigail.

Lalu bagaimana caranya supaya bisa ada keinginan untuk belajar sendiri?
Dengan persuasi,  misalnya ketika nonton film berbahasa inggris, kebetulan (Abigail senang nonton film) Ayah atau mama bilang Abigail akan ngerti apa yang dibicarakan dalam film jika Abigail bisa baca. Cara ini cukup efektif. Sekarang Abigail sendiri yang rajin membaca buku cerita, tanpa disuruh. Membaca setiap tulisan ketika sedang dalam perjalanan. Tidak lupa buku dan pensil dibawa ketika ingin bepergian.

Weleh weleh...

Keputusan mengenai memasukkan anak ke sekolah atau bimbingan belajar, tetap di tangan anda sebagai orang tua si kecil. Anda yang lebih tahu tentang anak anda sendiri. Jangan hanya mengikuti tren-tren di luar. Berikan yang terbaik untuk anak kita.