Blogger news

8 Jun 2012



Bubur bayi bulan ke bulan mengalami perubahan. Tekstur dan bahannya disesuaikan dengan usia bayi. Enam bulan pertama, susu menjadi makanan pokok dan satu-satunya yang boleh diterima bayi. Walaupun pada kenyataannya, ada orangtua yang sudah memberi makanan tambahan ketika bayi belum menginjak usia 6 bulan.



ASI merupakan makanan utama yang paling baik. ASI mengandung gizi, nutrisi, serta antibodi yang paling sempurna di dunia ini. Kita tentu sering mendengar istilah “ASI eksklusif”, bukan? Maksudnya, pemberian ASI selama 6 bulan penuh tanpa dicampur dengan apa pun, termasuk air putih ataupun vitamin.


Penelitian terkini membuktikan bahwa ASI berpengaruh terhadap kecerdasan anak. Sebuah hasil studi yang dikembangkan di 6 negara membuktikan bahwa bayi berumur hingga 2 bulan yang tidak mendapat ASI eksklusif rentan mengalami infeksi pencernaan. Tidak tanggung-tanggung, persentasenya mencapai 400 persen! Saat ini, digalakkan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan hingga anak berusia 2 tahun.


Sayangnya, tidak semua anak berkesempatan mendapat ASI eksklusif dengan berbagai alasan. Akhirnya, susu formula pun menjadi alternatif pilihan. Kini, di pasaran tersedia beragam susu formula aneka merek, harga, serta kandungan. Misalnya saja, untuk bayi berusia 0 – 6 bulan yang biasa dikenal dengan istilah susu formula awal. Susu ini pun masih dibedakan lagi untuk bayi yang lahir cukup bulan, bayi kurang bulan, hingga bayi cukup bulan tapi dengan berat badan lahir rendah.


Selain itu, ada kalanya susu formula justru membuat anak mengalami diare, alergi, atau malah sembelit. Jadi, susu formula tidak selalu cocok untuk bayi, beda dengan ASI yang sudah pasti tanpa efek samping.
Setelah bayi berusia 6 bulan, harus diberi makanan pendamping air susu ibu atau yang lebih dikenal dengan istilah MPASI. Orangtua harus jeli menyediakan makanan bagi bayi karena kondisi fisik mereka yang amsih lemah.


Di usia 6 bulan, gigi geligi bayi biasanya belum tumbuh. Kalaupun sudah, terbatas hanya di bagian depan saja. Lagipula, anak akan mengalami kesulitan jika langsung diberi makanan seperti batita. Organ pencernaan yang belum sempurna akan mendapat masalah nantinya. Intinya, bayi harus diperkenalkan pada makanan dengan perlahan-lahan. Biarkan mereka beradaptasi.

Bubur Bayi Bulan ke-6 Hingga ke-9

MPASI yang sebaiknya pertama kali diperkenalkan adalah bubur susu. Sedapat mungkin gunakan ASI sebagai bahan utama. Jika memang tidak memungkinkan, barulah gunakan susu formula. Pertama-tama, bayi diperkenalkan dengan 1 jenis bahan pangan yang dominan mengandung karbohidrat. Misalnya, beras dalam bentuk tepung.
Bubur susu dapat dicampur dengan dengan buah atau sayuran. Salah satu yang dianjurkan adalah buah alpukat. Karena buah ini mengandung asam lemak yang berguna untuk tubuh bayi.


Perhatikan reaksi yang timbul di kulit atau BAB si kecil. Jika tidak ada masalah, berarti aman. Otangtua dapat melanjutkannya dengan memberikan variasi lain. Mengapa hal ini perlu dilakukan sejak dini? Karena ini kelak akan berpengaruh terhadap pola makan si kecil. Yang penting, makanan buah hati terdiri dari gizi seimbang yang meliputi  karbohidrat, vitamin, lemak, protein, dan mineral dalam jumlah cukup.


Jika terbiasa mengonsumsi makanan yang bervariasi, anak tidak akan kesulitan dalam hal makanan. Bukankah sangat sering kita mendengar cerita tentang anak yang menolak makanan tertentu, seperti sayuran misalnya? Nah, itu biasanya disebabkan oleh kebiasaan yang ditanamkan orangtua sejak kecil. Anak hanya diberi makanan tertentu saja. Akibatnya, setelah dewasa mereka tidak akan menyukai makanan yang dirasa “asing” bagi lidahnya.


Buah pir dan apel merupakan contoh buah yang sangat disarankan untuk diperkenalkan di usia 6 bulan. Itu karena kedua buah ini mudah dicerna oleh bayi. Keduanya bisa dikombinasikan untuk dibuat bubur, tanpa perlu ditambah karbohidrat lagi. Memperkenalkan buah pun dilakukan secara bertahap. Jika satu jenis tidak bermasalah, kita dapat menambahkan dengan jenis lain. Hingga perlahan-lahan bertambah jumlahnya.
Berikut contoh penyajian bubur bayi bulan ke-6 hingga 9 bulan. Bubur ini disebut juga Bubur Susu Havermut.
  • Masak 2 sendok makan havermut bersama 200 cc air hingga lunak.
  • Setelah itu, dinginkan.
  • Lalu, campur dengan 200 cc ASI atau susu formula cair beserta 100 gram daging jambu biji.
  • Blender semuanya hingga halus. Setelah selesai, dapat dibagi dua dan disajikan kepada buah hati.
Bubur yang disajikan harus makin variatif seiring usia bayi. Ketika menginjak usia 8 bulan, bayi bisa disuguhi Bubur Saring Hati. Bahan-bahannya antara lain: beras merah, kacang hijau, wortel, hati ayam rebus, santan, serta kaldu daging. Ingat, setelah matang, bubur harus diblender terlebih dahulu hingga lembut. Sebab, bayi masih belum bisa mengonsumsi makanan yang kasar.
Satu hal yang perlu diperhatikan adalah jangan pernah membubuhi makanan bayi dengan garam dan gula. Biarkan bayi mencicipi rasa sebenarnya dari makanan. Garam dan gula hanya memperberat kinerja ginjalnya saja. Selain itu, sebenarnya bayi belum membutuhkan garam dan gula dalam makanannya.

Bubur Bayi Bulan ke-9 Hingga ke-12

Setelah memasuki usia 9 bulan, bayi memasuki fase mengonsumsi makanan lembek. Variasi makanan sudah semakin banyak, teksturnya pun tidak sehalus sebelumnya. Penggunaan saringan khusus sangat dianjurkan. Makanan dengan tekstur yang lebih kasar akan melatih rahang bayi. Umumnya, makanan yang disediakan adalah tim. Artinya, semua bahan makanan dikukus hingga matang. Kemudian, disaring dengan saringan khusus jika memang dianggap perlu.


Ketika bayi berada di usia ini, orangtua lebih mudah menyediakan makanannya. Karena kita seharusnya sudah tahu, mana makanan yang menimbulkan reaksi dan mana yang sebaliknya. Reaksi yang dimaksud adalah alergi atau masalah pencernaan. Jika bayi tidak pernah bermasalah dengan makanan, tentu ini menjadi berita yang sangat bagus.


Aneka ikan bisa disajikan pada anak. Tentunya dicampur dengan bahan lain yang dibutuhkan. Sehingga, menjadi makanan yang lezat dan disukai anak. Usahakan untuk mengganti menu setiap hari. Jangan menyetok makanan di dalam kulkas untuk digunakan selama berhari-hari. Itu akan membuat anak merasa bosan dengan rasa makanan yang tidak variatif.
Daging-dagingan pun sudah bisa disediakan. Tentunya dalam bentuk halus. Khusus untuk telur, sebaiknya dilakukan semacam percobaan dulu untuk mengetahui apakah ada reaksi alergi pada anak. Karena banyak bayi yang tidak bisa menyantap telur. 


Selain bubur lembek, bayi bisa diperkenalkan pada camilan genggam atau yang dikenal dengan istilah finger foods. Camilan ini banyak dijual di pasaran, namun kita pun dapat membuatnya sendiri. Dengan membuat sendiri, Anda akan mendapat camilan sehat yang bebas pengawet atau pewarna.
Buatlah camilan genggam yang mudah dipegang namun teksturnya lunak. Ini akan memudahkan bayi menyantap camilan miliknya. Jika orangtua memberi kesempatan pada anak untuk memegang sendiri camilannya, mungkin akan berantakan di sana-sini. Namun, ini menjadi salah satu cara melatih mereka agar kemampuan motorik kasarnya meningkat.
Camilan bergizi atau makanan selingan merupakan kebutuhan penting bagi bayi. Selingan biasanya diberikan di antara dua waktu makan utama atau dua kali sehari. Makanan selingan tentu harus ringan. Akan tetapi, kita tidak boleh melupakan kandungan gizinya. Jadi, orangtua tetap harus memberi makanan selingan yang bergizi untuk buah hati.


Hindari makanan ringan yang dijual dalam kemasan. Umumnya, makanan jenis itu hanya menawarkan rasa gurih dan asin tanpa kandungan gizi yang memadai. Biskuit khusus bagi bayi bisa dijadikan pilihan jika memang terpaksa. Buah dalam potongan kecil pun bisa menjadi camilan. Pisang, apel, tomat, dan pepaya merupakan pilihan yang bagus. Khusus untuk jeruk, sajikan airnya saja.


Dari uraian di atas bisa diketahui bahwa pemberian bubur bayi bulan ke bulan harus sangat diperhatikan. Selain kandungan gizi, variasi, dan kebersihannya, juga harus mendapat prioritas. Sebab, bayi sangat rentan dengan makanan yang tidak bersih.