Blogger news

5 Apr 2012

Ancaman bahaya gangguan kesehatan di tempat kerja sudah dikenal sejak beberapa abad yang silam. Pada abad ke tiga dan ke empat sebelum Masehi, Hippocrates pernah mendiskusikan masalah penyakit akibat hubungan kerja dengan muridnya, sambil menekankan pentingnya pengamatan lingkungan kerjanya.
Pada abad ke dua Masehi seorang dokter Yunani bernama Galen, merupakan dokter yang pertamakali membicarakan masalah pekerja tambang, tukang cat, ahli kimia dan lain-lainnya. Dia dan beberapa dokter lainnya yang ada pada saat itu yakin bahwa upaya menghisap asap belerang merupakan cara yang terbaik untuk mengobati asma. Dengan demikian para dokter itu lalu sering mengirimkan pasiennya ke gunung Aetna untuk menghisap uap gunung berapi.

Pada tahun 1713 Bernardo Ramazzini yang dianggap sebagai Bapak Kesehatan Kerja Modern menulis: " .. kita harus menyadari bahwa pekerja dalam bidang kerajinan dan senirupa kadang-kadang terancam cedera yang membahayakan, sedemikian rupa sehingga dalam upaya untuk memperpanjang hidupnya dan memberi makan keluarganya, dia harus dibayar dengan penyakit yang membahayakan." Pada masa revolusi industri keselamatan pekerja di rumah diganti dengan keselamatan di pabrik yang gelap dan berventilasi buruk. Kondisi kerja sedemikian buruknya sehingga banyak pekerja yang sakit akibat pemajanan pekerjaan.

Pada tahun 1946 di AS ACGIH menyusun daftar 140 jenis bahan kimia yang dianggap membahayakan pekerja. Perlu waktu 20 tahun untuk berdirinya National Institute of Occupational Safety and Health (NIOSH) yang merupakan badan yang banyak menghasilkan rekomendasi untuk Occupational Safety and Health Administration (OSHA.)


Saluran pernafasan merupakan organ yang paling sering terkena akibat penyakit akibat kerja, karena organ ini merupakan pintu masuk bahan beracun. Sejumlah bahan kimia dan debu organik telah dikenal sebagai penyebab asma akibat kerja. Di satu negara asma mungkin merupakan penyakit paru yang paling sering ditemukan, sementara di bagian negara lain malah jarang terjadi.

Kesulitan utama untuk menetapkan besarnya masalah yang dihadapi ialah belum disepakatinya definisi asma secara universal. Untuk Amerika asma adalah penyempitan saluran udara pernafasan yang dapat pulih kembali, yang disebabkan oleh debu, uap, gas, asap yang dihirup, apakah bahan itu diproduksi atau ada di tempat kerja. Ciri dari keadaan ini ialah bahwa saluran pernafasan itu bereaksi terhadap bahan sensitizer atau perangsang. Sekali memperlihatkan gejala asma, maka setiap menghidup bahan akan menyebabkan asma.

Alergi akibat kerja

Seorang pasien yang menderita alergi akibat kerja dan asma baru akan mengalami gejala setelah beberapa saat mengalami sensitisasi, dengan kata lain harus ada beberapa kali pemajanan sampai sistem imun pekerja dapat memberikan tanggapan. Pekerja belum akan menderita pada saat terpajan pertama kali dengan bahan pengiritasi, namun baru akan mengalami reaksi setelah beberapa minggu atau bulan. Setelah terjadi sensitisasi pekerja akan mengalami gejala apakah di rumah atau di tempat kerja. Beberapa pekerja dengan asma akibat kerja akan mengalami reaksi yang terlambat, dengan gejala batuk, sesak nafas dan rasa berat di dada yang timbul sampai beberapa jam setelah pemajanan. Disamping gejala asma itu, yang lebih sering pekerja yang alergi akan mengalami gejala gangguan hidung dan pernafasan di tempat kerja. Gejala biasanya bertambah parah selama jam kerja dan menjadi membaik ketika pasien kembali ke rumah. Biasanya gejala memburuk pada akhir minggu dan akan sangat membaik selama masa cuti atau libur. 

Bahan penyebab alergi

Ada sekitar 200 jenis bahan industri yang dikenal sebagai penyebab alergi dan asma. Dokter hewan, peternak dan petugas laboratorium percobaan binatang bisa terpajan terhadap protein hewan, bulu, liur dan air seni. Makanan juga merupakan sumber reaksi alergi. Juru masak yang mengolah makanan bisa terpajan dengan kerang-kerangan, telur dan makanan laut lainnya. Sejenis jamur sepertiAspergillus dapat menimbulkan reaksi alergi pada pekerja yang terkait dengan ventilasi dan air condition. Beberapa antibiotika dapat menimbulkan reaksi alergi pada asisten apoteker. Pada pekerja kesehatan sarung tangan latex kini mulai banyak dikeluhkan menyebabkan alergi. Pekerja yang aktif di pabrik plastik dan industri cat sering terpajan dengan asam anhidrid atau isosianat yang dapat menimbulkan penyakit alergi hidung dan saluran pernafasan. Daftar beberapa bahan yang menimbulkan alergi ada dalam lampiran. 

Menghindari pemajanan

Tindakan yang paling tepat dalam menghadapi pekerja yang mengalami reaksi alergik ialah dengan menyingkirkannya dari tempat kerja. Jarang sekali upaya untuk memberikan alat pelindung diri seperti respirator atau masker yang berhasil melindungi pekerja dari pemajanan. Pada umumnya begitu pemajanan dihentikan gangguan akan pulih kembali. Untung sekali, sebagian besar pasien asma akibat kerja sembuh sempurna, jika diagnosis segera dibuat dan pekerja tidak mengalami pemajanan lagi. Sekali-sekali beberapa pekerja dalam industri tertentu akan mengalami gangguan paru yang tetap, jika tidak dilindungi dari pemajanan atau segera dipindahkan tempat kerjanya. 

Kekerapan asma akibat kerja

Frekuensi asma akibat kerja tidak ada yang tahu, meskipun ada beberapa perkiraan. Di Jepang diperkirakan 15% dari asma pada lelaki mungkin akibat kerja. Di Amerika Serikat, 2% dari semua kasus asma diperkirakan akibat kerja. Jumlah kasus asma akibat kerja berbeda dari satu negara ke negara lain dan dari industri ke industri. Sekitar 6% dari pengangon hewan menderita asma karena bulu dan debu. Sekitar 10 dan 45% pekerja yang memproses subtilisin (enzim proteolitik) dalam industri detergen akan menderita asma. Upaya untuk membuat enzim dalam granula yang lebih sukar untuk dihirup, sedikit banyak mengurangi terjadinya asma. Sekitar 5% dari pekerja yang terpajan bahan kimia seperti isosianat dan debu kayu akan mengalami asma. 

Asma dan produktivitas

Sebanyak satu dari sepuluh pekerja di Amerika Serikat terkena alergi. Menurut penelitian Hewitt, alergi sering menyebabkan terjadinya absen sakit dan menurunkan produktivitas di tempat kerja. Menurut survai yang dilakukan pada 2000 pekerja dari 30 perusahaan di Amerika menyebabkan pengeluaran dari perusahaan sebesar USD 250 000 000 selama tahun 1998.

Pekerja yang makan obat tanpa resep sering meninggalkan pekerjaannya akibat rasa kantuk yang berlebihan, sementara mereka yang mendapatkan obat melalui resep dokter untuk menghilangkan gejala alergi, sering meninggalkan pekerjaan karena ada janji dengan dokternya.

Sebanyak 83% dari pekerja mengatakan bahwa dia tidak bisa bekerja efektif akibat gejala alergi. Rata-rata, pekerja memperkirakan bahwa mereka 26% kurang efektif dalam bekerja jika mengalami alergi. Selama setahun setiap pekerja mengalami masa 68.7 hari dimana pekerja terserang alergi. Jika digabungkan antara biaya meninggalkan pekerjaan dan menurunnya produktivitas, maka diperkirakan perusahaan akan merugi kira-kira USD 2000 per tahun per penderita alergi. Sebanyak 40% dari pekerja yang menderita alergi mengatakan bahwa mereka meminta ijin sakit untuk tidak bekerja 1 sampai 5 hari akibat gejalanya.

Asma merupakan penyebab absen dari kerja dan menelan biaya yang cukup mahal pada beberapa perusahaan asuransi kesehatan dan JPKM. Di Amerika diperkirakan kasus asma berlipat dua dalam jangka 25 tahun belakangan ini. Penyakit ini menjadi penyebab utama pasien masuk rumah sakit dan penyebab absen kerja. Diperkirakan biaya yang harus dikeluarkan mencapai $ 6.2 billion setahun.

Lebih dari 20% dari kasus asma di AS disebabkan oleh pemajanan di tempat kerja. Pemajanan ini terjadi akibat adanya ratusan bahan yang sudah dikenal sebagai penyebab asma. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa pengurangan pemajanan merupakan satu-satunya upaya yang dapat dilakukan. Sementara itu masih banyak pekerja yang menderita asma, karena pemajanan masih berlanjut, tidak terdiagnosis dan tidak dipindahkan dari lingkungannya.

Sampai sekarang belum ada pengobatan untuk asma. Penyakit ini hanya dapat dikendalikan dengan pengobatan yang tepat, meminta pengertian pasien dan pendidikan keluarga. Asma yang disebabkan oleh lingkungan dan pemajanan tempat kerja merupakan masalah yang unik yang memerlukan perhatian tersendiri dan perlu waktu untuk memahaminya. Perhatian itu sering diperlukan oleh para dokter, yang bekerja dalam keseimbangan antara efek samping beberapa pengobatan dan strategi penghindaran kekambuhan dan perawatan di rumah sakit. Menjaga pasien agar tetap sehat dan produktif di rumah, sekolah dan di tempat kerja merupakan tujuan utama manajemen asma.

Manajemen penyakit khronik ini memerlukan kunjungan ke dokter berkali-kali, yang sering kali memerlukan biaya tinggi. Perusahaan JPKM mulai mengukur dimensi cacat akibat asma, dalam hal kualitas hidup, tingkat pemasukan ke rumah sakit, kunjungan ke bagian gawat darurat dan total biaya yang diperlukan. Ada harapan baru dalam manajemen asma dimana diproduksi suatu vaksin baru yang disebut dengan allervac cat yang dapat dipakai oleh sepertiga dari penderita alergi yang peka terhadap kucing.

Baru sejak 1966 asma dikenal sebagai penyakit gangguan fungsi sistem imun. Namun masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Belum ada yang mengetahui mengapa 20% tim Olympic Amerika menderita asma? Mengapa asma 22% lebih tinggi pada bangsa Amerika asal Afrika dibandingkan dengan orang Amerika kulit putih? 

Dampak pengobatan terhadap produktivitas

Mary Beth Quig, Ph.D., Neuropsychology Fellow at Georgetown University Medical Center, menyatakan tentang efek antihistamin terutama mengantuk pada siang hari dan kinerja kognitif. Dia mengatakan bahwa banyak dari pekerja yang makan obat untuk mengatasi alerginya tidak mengetahui jika mereka mengantuk. Dari survai yang dilakukan pada 1000 orang pekerja, Quig menemukan 36 % pekerja tidak bisa membedakan antara pengobatan yang menyebabkan kantuk dan yang tidak.

Penelitian itu menyebutkan bahwa obat bebas paling mempengaruhi pekerja yang mempunyai tugas monotoni atau pekerja berat yang memerlukan perhatian terpecah dua. Bergantung pada jenis pekerjaan yang dilakukan, mereka yang makan obat bebas cenderung untuk mengalami kecelakaan akibat kerja.

Jika pekerja diberikan obat yang tidak menyebabkan mengantuk pada siang hari dan diberikan obat yang menyebabkan mengantuk pada malam hari akan terjadi "efek hangover ". Itu akan menyebabkan rasa kantuk yang abnormal pada siang hari. Pemeriksaan imaging otak menyimpulkan bahwa dalam keadaan itu diperlukan lebih banyak energi untuk pekerjaan yang sama.

Biaya yang mahal

Alergi adalah penyakit yang mahal. Bukan hanya akibat biaya langsung untuk honor dokter, pembelian resep obat di apotik dan biaya pemeriksaan untuk membuat diagnosis, namun juga termasuk biaya tidak langsung untuk alergi seperti absen kerja dan penurunan produktivitas.

Suatu penelitian terbaru memperkirakan bahwa biaya tahunan untuk rhinitis alergika saja mendekati US $ 2 000 000 000.--.Sepertiga dari jumlah ini terbuang akibat menurunnya produktivitas, sebagai hilangnya hari kerja dan hari-hari kerja dimana terjadi penurunan kinerja akibat hidung tersumbat, nyeri kepala dan gejala alergi lainnya. Menurut survai Gallup penurunan effisiensi kerja diperkirakan 25%. 

Tindakan oleh spesialis

Jika asma tidak ditangani secara serius, penyakit ini sering menyebabkan masuknya pasien ke rumah sakit, kunjungan ke unit gawat darurat dan meninggalkan pekerjaan. Biaya rawat inap saja merupakan separuh dari biaya seluruh penanganan asma. Diperkirakan lebih dari 80% sumber daya untuk menangani asma akan dipergunakan oleh sejumlah 20% penderita asma yang pengobatannya tidak terkendali.

Menurut penelitian terakhir menunjukkan bahwa pasien yang ditangani oleh para spesialis akan lebih berhasil, menyangkut:

  1. Penurunan angka masuk rumah sakit; 
  2. Penurunan lama rawat inap; 
  3. Penurunan kunjungan ke unit gawat darurat; 
  4. Penurunan kunjungan rawat jalan. 
  5. Penurunan angka absen sakit; 
  6. Peningkatan produktivitas pekerja dengan asma; 
  7. Kepuasan pasien akan meningkat; 
Sebagai contoh misalnya penanganan asma secara agresif akan mengurangi angka absen sakit. Satu penelitian menunjukkan bahwa pasien asma yang ditangani oleh spesialis akan mengalami kehilangan hari kerja akibat absen sakit menjadi separuhnya. Pekerja yang mengikuti program perawatan di rumah dan rawat jalan akan mengalami absen sakit sebanyak 10.7 hari kerja dibandingkan yang tidak ikut program sebanyak 16 hari kerja.


Kesimpulan

Meskipun kita sudah mengenal reaksi alergi akibat kerja sudah berabad-abad, masih banyak yang belum dipelajari. Berapakah kadar pemajanan suatu bahan penyebab asma yang paling aman, itu banyak yang belum diketahui. Hal itu penting untuk kalangan industri dan kedokteran untuk memelihara lingkungan kerja. Masyarakat perlu menyadari bahwa seseorang yang menderita alergi, asma atau dermatitis, mereka bukan satu-satunya orang yang dapat mengalami reaksi alergi akibat kerja. Banyak pekerja yang tidak alergi akan mengalami alergi di tempat kerja. Jika seseorang mengalami reaksi alergi di tempat kerja, sebaiknya segera membicarakannya dengan pengusaha dan dokter secepat mungkin.

Pada masa 10 tahun mendatang perlu dikaji bagaimana struktur tenaga kerja di berbagai sektor berkaitan dengan adanya kontak alergi ini. Apakah ada latar belakang kontak alergi baik dari dalam maupun dari luar? Bagaimana peta terjadinya alergi tipe 1 dan tipe 4? Bagaimana mencegah alergi dengan jalan menghilangkan pemajanan, memberikan pertahanan tubuh dan melakukan seleksi, misalnyagenetic screening?


Sudjoko Kuswadji

Pengurus Pusat Ikatan Dokter Kesehatan Kerja Indonesia